BPOM Resmi Menjadi Bagian MBG, Awasi Program Makan Bergizi Gratis
Setelah hampir tiga pekan
diselenggarakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya resmi menjadi
bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini ditandai dengan
penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), antara
BPOM dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
Meski baru diresmikan,
kerjasama antara kedua lembaga negara tersebut telah berlangsung sejak Kepala
BPOM Taruna Ikrar dan Kepala BGN Dadan Hindayana dilantik oleh Presiden Prabowo
Subianto tahun lalu.
Dadan menjelaskan bahwa
sebagian besar aspek pada program ini memerlukan bantuan dari BPOM, utamanya
mengenai pengawasan, monitoring, evaluasi, hingga mitigasi.
"BPOM akan menjadi bagian
yang terlebar dari program ini, terutama untuk menjamin agar penerima manfaat
aman dari risiko di segala aspek," kata Dadan usai penandatanganan MoU di
Kantor BPOM, Jakarta, 23 Januari 2024.
Di mana, BPOM dalam
penyelenggaraan program ini memiliki fungsi memastikan higienitas dan keamanan
makanan yang akan diberikan kepada penerim manfaat.
Kedua aspek tersebut
ditetapkan Dadan sebagai standar utama dalam memenuhi gizi nasional.
"Kemudian yang kedua
adalah pemenuhan komposisi gizi yang harus dipenuhi, harus ada protein, harus
ada karbohidrat, harus ada serat, kemudian harus ada mineral serta susu,"
paparnya.
Sementara itu Taruna
menekankan bahwa keterlibatan BPOM pada program ini merupakan keniscayaan.
"Kami bukan hanya perlu
terlibat tapi wajib Dilibatkan dalam makan bergizi gratis ini," tegas
Taruna pada kesempatan yang sama.
Dijelaskannya, langkah pertama
untuk memastikan kesehatan dan kebersihan makanan adalah mitigasi.
Di mana, pada program
pemberian makanan dengan skala besar ini terdapat risiko terjadinya kejadian
luar biasa keracunan pangan (KLB-KP).
"Dan menurut data kami
ada peluangnya (terjadi KLBk yaitu sekitar 76 persen. Oleh karena itu,
berdasarkan pengalaman kami puluhan tahun Badan POM punya pengalaman untuk
melakukan mitigasi," ungkap Taruna.
Bukan hanya itu, pihaknya juga
akan memberikan pelatihan bagi petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
mengenai SOP penyiapan makanan, serta pengembangan fasilitas laboratorium.
Dengan begitu, risiko terjadi
keracunan yang mencapai 76 persen ini dapat diminimalisir.
"Kalau kita sudah mitigasi itu probabilitasnya akan menurun. Sehingga kita juga bisa membantu dalam hal kayak pemadam kebakaran itu. Secepatnya bisa bertindak supaya tidak terjadi kejadian ini bisa berbahaya pada tingkatan anak-anak sakit, bahkan kehilangan jiwa."
No comments: